IMAM SUPRIADI MELAWAN BPK RI

SBY ADALAH BAGIAN DARI ILLUMINATI

KELOMPOK RAHASIA ILLUMINATI

AHMAD DHANI DAN ILLUMINATI

Al-Qur'an Online

Pencarian

No
Nama Surat
Jumlah Ayat
1
AL FAATIHAH (PEMBUKAAN)
7
2
AL BAQARAH (SAPI BETINA)
286
3
ALI 'IMRAN (KELUARGA 'IMRAN)
200
4
AN NISAA' (WANITA)
176
5
AL MAA-IDAH (HIDANGAN)
120
6
SURAT AL AN'AAM (BINATANG TERNAK)
165
7
AL A'RAAF (TEMPAT TERTINGGI)
206
8
AL ANFAAL (RAMPASAN PERANG)
75
9
SURAT AT TAUBAH (PENGAMPUNAN)
129
10
YUNUS
109
11
HUUD
123
12
YUSUF
111
13
AR RA'D (GURUH)
43
14
IBRAHIM
52
15
AL HIJR
99
16
AN NAHL (LEBAH)
128
17
AL ISRAA' (MEMPERJALANKAN DI MALAM HARI )
111
18
AL KAHFI (GUA)
110
19
MARYAM
98
20
THAAHAA
135
21
AL ANBIYAA' (NABI-NABI)
112
22
AL HAJJ (HAJI)
78
23
AL MU'MINUUN (ORANG-ORANG YANG BERIMAN)
118
24
AN NUUR (CAHAYA)
64
25
AL FURQAAN (PEMBEDA)
77
26
ASY SYU'ARAA' (PARA PENYAIR)
227
27
AN NAML (SEMUT)
93
28
AL QASHASH (CERITA)
88
29
AL'ANKABUUT (LABA-LABA)
69
30
AR-RUUM (BANGSA RUMAWI)
60
31
LUQMAN
34
32
AS SAJDAH (SUJUD)
30
33
AL AHZAB (GOLONGAN YANG BERSEKUTU)
73
34
SABA' (KAUM SABA')
54
35
FAATHIR (PENCIPTA)
45
36
YAA SIIN
83
37
ASH SHAAFFAAT (YANG BER SHAF-SHAF)
182
38
SHAAD
88
39
SURAT AZ ZUMAR (ROMBONGAN-ROMBONGAN)
75
40
AL MU'MIN (ORANG YANG BERIMAN)
85
41
FUSHSHILAT (YANG DIJELASKAN)
54
42
ASY SYUURA (MUSYAWARAT)
53
43
AZ ZUKHRUF (PERHIASAN)
89
44
AD DUKHAAN (KABUT)
59
45
AL JAATZIYAH (YANG BERLUTUT)
37
46
AL AHQAAF (BUKIT-BUKIT PASIR)
35
47
MUHAMMAD (NABI MUHAMMAD S.A.W)
38
48
AL FAT-H (KEMENANGAN)
29
49
AL HUJURAAT (KAMAR-KAMAR)
18
50
QAAF
45
51
ADZ DZAARIYAAT (ANGIN YANG MENERBANGKAN)
60
52
ATH THUUR (BUKIT)
49
53
AN NAJM (BINTANG)
62
54
AL QAMAR (BULAN)
55
55
AR RAHMAAN (YANG MAHA PEMURAH)
78
56
AL WAAQI'AH (HARI KIAMAT)
96
57
AL HADIID (BESI)
29
58
AL MUJAADILAH (WANITA YANG MENGAJUKAN GUGATAN)
22
59
AL HASYR (PENGUSIRAN)
24
60
AL MUMTAHANAH (WANITA YANG DIUJI)
13
61
ASH SHAFF(BARISAN)
14
62
AL JUMU'AH (HARI JUM'AT)
11
63
AL MUNAAFIQUUN (ORANG-ORANG MUNAFIK)
11
64
AT TAGHAABUN (HARI DINAMPAKKAN KESALAHAN-KESALAHAN)
18
65
ATH THALAAQ (TALAK)
12
66
AT TAHRIM (MENGHARAMKAN)
12
67
AL MULK (KERAJAAN)
30
68
AL QALAM (KALAM)
52
69
AL HAAQQAH (HARI KIAMAT)
52
70
AL MA'ARIJ (TEMPAT-TEMPAT NAIK)
44
71
NUH (NABI NUH)
28
72
AL JIN (JIN)
28
73
AL MUZZAMMIL (ORANG YANG BERSELIMUT)
20
74
AL MUDDATSTSIR (ORANG YANG BERKEMUL)
56
75
AL QIYAAMAH (HARI KIAMAT)
40
76
AL INSAAN (MANUSIA)
31
77
AL MURSALAAT (MALAIKAT-MALAIKAT YANG DIUTUS)
50
78
AN NABA' (BERITA BESAR)
40
79
AN NAAZI'AAT (MALAIKAT-MALAIKAT YANG MENCABUT)
46
80
'ABASA (IA BERMUKA MASAM)
42
81
AT TAKWIR (MENGGULUNG)
29
82
AL INFITHAAR (TERBELAH)
19
83
AL MUTHAFFIFIIN (ORANG-ORANG YANG CURANG)
36
84
AL INSYIQAAQ (TERBELAH)
25
85
AL BURUUJ (GUGUSAN BINTANG)
22
86
ATH THAARIQ (YANG DATANG DI MALAM HARI)
17
87
AL A'LAA (YANG PALING TINGGI)
19
88
AL GHAASYIYAH (PERISTIWA YANG DAHSYAT)
26
89
AL FAJR (FAJAR)
30
90
AL BALAD (KOTA)
20
91
ASY SYAMS (MATAHARI)
15
92
AL LAIL (MALAM)
21
93
ADH DHUHAA (WAKTU MATAHARI SEPENGGALAHAN NAIK)
11
94
ALAM NASYRAH (BUKANKAH TELAH KAMI LAPANGKAN)
8
95
AL TIIN (BUAH TIN)
8
96
AL 'ALAQ (SEGUMPAL DARAH)
19
97
AL QADR (KEMULIAAN)
5
98
AL BAYYINAH (BUKTI YANG NYATA)
8
99
AL ZALZALAH (KEGONCANGAN)
8
100
AL 'AADIYAAT (KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG)
11
101
AL QAARI'AH (HARI KIAMAT)
11
102
AT TAKAATSUR (BERMEGAH-MEGAHAN)
8
103
AL 'ASHR (MASA)
3
104
AL HUMAZAH (PENGUMPAT)
9
105
AL FIIL (GAJAH)
5
106
QURAISY (SUKU QURAISY)
4
107
AL MAA'UUN (BARANG-BARANG YANG BERGUNA)
7
108
AL KAUTSAR (NI'MAT YANG BANYAK)
3
109
AL KAAFIRUUN (ORANG ORANG KAFIR)
6
110
AL NASHR (PERTOLONGAN)
3
111
AL LAHAB (GEJOLAK API)
5
112
AL IKHLASH (MEMURNIKAN KEESAAN ALLAH)
3
113
AL-FALAQ (WAKTU SUBUH)
5
114
AN NAAS (MANUSIA)

George Bush dan SBY adalah "The New World Order"



SKENARIO AS UNTUK PENANGKAPAN BA'ASYIR

Subhanllah Pendeta Masuk Islam

Rabu, 17 Oktober 2012




RINTANGAN DI BULAN MEI (Mei 2008)
Ketika hidup harus dilalui
Ketika jalan harus ditapaki
Meski kerikil dan duri tersebar di jalan yang kulalui
Sepertinya memang harus aku lalui
Karena jalan itulah yang harus kutempuh
Meski penat, letih dan lelah merambati tubuh ini
Serta keringat mengucur membasahi tubuh
Aku tak boleh berhenti sedikitpun
Apapun rintangan yang menghadang
Apapun halangan yang membentang
Tak ada kata menyerah
Jangan ada kata menyerah
Sampai aku merasa tak mampu lagi
Sampai kakiku tak bisa melangkah lagi
Sampai nafasku terhenti satu satu
Sampai langkahku tertatih tatih
Sampai tangan ini tak bisa lagi menggapai lagi
Aku harus terus melangkah
Aku harus terus berjalan
Aku harus terus berjuang
Aku harus terus berlari
Sampai ujung usiaku nanti

            Tuhan.......
Kenapa di bulan Mei ini aku harus menerima ujianmu
Yang begitu sarat dengan beban di pundakku
Yang begitu berat membebani hidupku
Kenapa.......?
Kenapa......?
Kenapa Engkau memberiku ujian seberat ini
Padahal......
Setiap harinya telah aku lalui
Setiap harinya aku jalani
Setiap harinya aku tapaki
Dengan segenap kekuatanku
Dengan segenap kemampuanku
Dengan segenap dayaku
Meski aku tak tahu
Sampai kapan semuanya kan berakhir
Kan berhenti......
Kan berlalu......
Tuhan.......
Kalau boleh aku bertanya....
Kalau boleh aku meminta...
Meski aku tahu, karena Engkau Maha Tahu
Sebelum aku meminta...sebelum aku bertanya
Engkau telah tahu kalau aku menjalani kehidupanku seperti ini
Seperti hari-hari biasa.........seperti hari-hari kemarin....
Yang tak pernah berubah
Yang tak pernah berganti
Dari sepinya ujian dan cobaan
Dari halangan dan rintangan
Dekat.....dekat...dan dekat
Hingga akhir hayat


Bandar Lampung, 28 Mei 2008-05-2008
Pukul 08.36 WIB
Kupersembahkan untuk Isteri dan Anak-anakku
Dari Ayah yang tak pernah sepi dari ujian.
IMAM SUPRIADI

SATU SATU BERLALU
Satu satu pun berlalu
Persoalan-persoalan yang datang menghampiriku
Satu satu pergi
Satu satu lagi kan datang
Entah sampai kapan......






 


YANG KUMINTA BUKAN YANG KUMAUI
Aku datang kepada seseorang
Karena aku butuh dirinya
Tuk mengerti apa yang kurasa saat ini
Tuk memahami persoalan yang sedang kuhadapi
            Aku bercerita padanya
            Aku sampaikan keluhan padanya
Tapi apa yang kudapat
Tapi apa yang kudengar
Yang kudapat
Yang kuminta bukan yang kumaui








 



TUK SESEORANG YANG BAIK HATI
Hari ini......
Ya hari ini...
Tuhanku telah mempertemukan aku dengannya
Saat kudatang padanya
Dia mengerti
Dia memberi
Tuk hidupku selanjutnya
Tuhan....
Lewat TanganMU
Kau ketuk pintu hatinya
Disaat yang lain berpaling
Disaat yang lain termangu
Dalam diam
Dalam bisu
Yang akhirnya berlalu...
Tapi tidak dengannya
Yang telah berbaik hati padaku
Tuk menyelesaikan persoalanku
Yang membelenggu hdiupku
Yang membelit ragaku
Terima kasih Tuhan
Semoga Engkau lindungi dirinya
Dari segala kesusahan dan kesulitan
Dan menjemput impiannya
Amin.....!

MENANGISLAH ACEH MENANGISLAH KITA
Menangislah Aceh
Menangislah…….
Ketika engkau masih memiliki air mata
Dukamu adalah dukaku…
Dukamu adalah duka kami juga
Laramu adalah laraku
Dan laramu…….adalah lara kami juga
            Menangislah Aceh…menangislah
Sampai air matamu tak ada lagi
Sampai air matamu tak menetes lagi
Sampai tangismu tak terdengar lagi
Karena kamu memang kehabisan air mata
Karena kamu kehabisan kata-kata
Karena kamu makhluk yang tak berdaya
Sama seperti aku
Sama seperti kami
            Menangislah Aceh…..
            Biar di setiap pelosok negeri mendengar tangismu
            Biar di setiap penjuru bumi mendengarmu
            Menjeritlah…menjeritlah
Semampumu kau menjerit
            Semampumu dengan suara paraumu
            Aku pun turut kehabisan air mata
Kami pun kehabisan air mata
Aku tak percaya dengan apa yang terjadi di serambi mekahmu
Aku tak percaya dengan apa yang terpampang di televisi
Karena aku,
Karena aku…….tak sanggup melihat kepedihanmu
Ketika kalian berlari-lari menuju entah kemana kau tuju
Kau berlari air pun mengejarmu
Kau berlari dan terus berlari
Sedapatnya kau berlari
Tapi apa yang ada di belakangmu
Air bah yang begitu dahsyat meluluh lantakkan seisi kotamu
Gelombang tsunami menenggelamkan harapanmu
Gelombang tsunami meretaskan masa depanmu
Gelombang tsunami menghancurkan segala yang kamu miliki
            Oh Aceh……..!
Dukamu adalah duka kami
Laramu adalah lara kami
Tangismu adalah tangis kami
Suara paraumu adalah suara parau kami juga
Ketika gempa tektonik melanda kotamu
Disusul badai tsunami yang menghabisi anak-anakmu
Yang menghabisi isteri-isteri kalian
Yang menghabisi suami-suami kalian
Yang menghabisi ayah dan ibu kalian
Yang menghabisi gedung-gedung dan bangunan-bangunan
Kendaraan-kendaraan
Dan apa saja yang ditemui
Semua luluh lantak
            Oh Aceh……..!
            Wajahmu yang dulu ceria…kini terbalut luka
            Parasmu yang dulu elok kini tercabik duka
            Berdarah
            Bernanah
            Berdarah
            Bernanah
            Dan terus berdarah
Oh Aceh…
Aku melihat tangismu di layar teve
Aku tersentak dibuat tak percaya
Hanya dalam sekejap seluruh bumimu ditelan gelombang tsunami
Gelombang yang tingginya setinggi 10 meter hingga 15 meter
Dan terpaannya sejauh lima kilometer
Oh dahsyatnya
Oh Aceh……...
Menangislah dikala kau bisa menangis
Biar aku dengar isak tangismu yang membahana
Biar aku dengar rintihanmu yang memilukan
Agar kami pun turut merasakan duka dan laramu
Agar kami paham kepedihanmu
Karena kami adalah saudaramu
Ya…saudaramu yang jauh dari malapetaka
Musibah yang melanda negeri serambi mekah
            Wahai saudaraku yang jauh disana…!
            Sebagai rasa senasib sepenanggungan
Kami hanya bisa memberimu sedikit bekal
Seperti selimut….untuk menghangati tubuhmu
Seperti sepotong kemeja dan sepotong celana
Untuk menambal auratmu
Agar kamu tidak bertelanjang lagi
Agar kamu dapat merasakan dekapan kami yang dari jauh
Agar kamu dapat merasakan getaran tali persaudaraan diantara kita
Sebagai anak bangsa
Oh Aceh….!

Palembang, 2 Januari 2005
Pukul 23.30 Minggu malam
Karya : IMAM SUPRIADI

SETAHUN DAMAI DI BUMI SERAMBI MEKAH
Setahun damai di Bumi Serambi Mekah
Berkumpullah mereka di tanah lapang
Di pesisir pantai
Di Kota Olele
Setahun damai di Bumi Serambi Mekah
Tanpa senjata
Tanpa tangis pilu
Hanya tangis kebahagiaan yang ada
Dalam rangkulan Ibu Pertiwi
Tuk menatap masa depan
Yang lama tak terpikirkan
Karena disaput kengerian
Dan kegetiran
Dalam cengkeraman kematian
Setiap saat
Dulu........
Ketika desing peluru menyeruak kesunyian
Menerjang sepotong tubuh yang tak berdaya
Menguliti daging yang kurus kering
Tergeletak diperkebunan samping rumah
Entah tubuh siapa...?
Dulu.....
Ketika rasa kemanusiaan yang menipis
Menyingkirkan kecintaan sesama manusia
Hanya ada dendam yang membara di dalam dada
Pada setiap prajurit GAM dan Tentara Republik
Bertarung nyawa menyongsong maut
Dengan senjata siap di tangan
Dulu....
Ketika para pemimpin kedua kelompok
Yakni Tentara Republik dan GAM
Mengesahkan kematian demi kematian
Hanya demi tugas dan gengsi
Dari hari ke hari
Menebarkan keangkuhan
Dan mempertahankan kekuasaan
            Ketika itu tak ada lagi belas kasihan
Tak ada lagi kecintaan kepada sesama
Tak ada lagi rasa sayang
Meski tangisan merebak di setiap keluarga yang ditinggalkan
Karena lelaki mereka telah terbunuh
Karena isteri mereka telah tewas tertembak
Karena anak mereka telah terbujur kaku
Akibat letupan senjata api dari tangan prajurit
Baik dari Gam maupun Tentara Republik
Karena saling bunuh
Cukup banyak sudah air mata tertumpah
Cukup banyak sudah jasad terkapar
Cukup banyak sudah isteri yang menjadi janda
Cukup banyak sudah anak-anak yang menjadi yatim dan piatu
Cukup banyak sudah harta terkuras
Cukup banyak sudah peluru terhambur
Cukup banyak sudah rumah terbakar
Cukup banyak sudah sekolah ikut terbakar
Cukup
Cukup
Cukup
Kini tiba waktunya
Perdamaian meretas
Menggelorakan semangat kebersamaan
Pada setiap anak-anak Aceh
Pada setiap perempuan-perempuan Aceh
Pada setiap lelaki-lelaki Aceh
Pada setiap mereka yang cinta damai
Dalam ketulusan jiwa
Dalam kearifan jiwa
Dan dalam ridho Ilahi...
Amin....

Dipersembahkan kepada Isteri dan Anak-anakku
Juga kepada Rakyat Aceh yang cinta damai
Palembang 16 Agustus 2006 Pukul 08.50 WIB
Oleh : Imam Supriadi


DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943

CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946
- Chairil Anwar-
Hujan di Bulan Juni (Sapardi Joko Damono)

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

AIR SELOKAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono


"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
-- ia hampir muntah karena bau sengit itu.

Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.

Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:
"Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!"
Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.

AKULAH SI TELAGA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya

HATIKU SELEMBAR DAUN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
BELAJAR DARI TIMOR TIMUR
Oleh :
Sobron Aidit

Kenapa tak dari dulu
kenapa tak dari dulu
setelah nyaris habis aus
kering-kerontang terperas ludas
kini campakkan jauh-jauh
agar bersih dari sejarah?
Padahal kenaikan pangkat puluhan jenderal
penuh berlumuran darah
penuh berlumuran rupiah.

Sejak tiga windu
puluhan ribu
kau ciptakan para janda
dan yatim-piatu
kau gelapkan gundukan kuburan
seolah tak ada apa-apa
yang dulu mereka pernah hidup di Jakarta
dan di tanah-tanah yang masih sentosa.

Kaukatakan pelurusan sejarah
padahal semata penggelapan
kelabu dan penghitaman.

Korban-korban dari banyak pihak
saksi bisu yang bisa bersaksi
yang dari dulu menuntut hak
tapi kini kau campakkan yang dulu kau rebut
walaupun tak bisa-bisa
walaupun dengan darah dan jiwa.

Kenapa tak dari dulu
kenapa tak dari dulu
Timor Timur dalam peta
kecil bagaikan biji semangka
atau sebutir beras basmati
dunia telah banyak belajar darinya
dan kau keok dihajarnya
oleh orang-orang hitam yang hatinya putih
yang gagahnya dan beraninya mendunia
justru kini mereka sedang membangun sejarah!


Paris 4 Februari 1999.-


DAFTAR INGATAN
Oleh :
Sobron Aidit

Kebakaran besar seakan takkan lagi terjadi
kebakaran kecil di mana-mana muncul
hutan - makhluk - tambang,terbias ludas
penderitaan - kesengsaraan - lamat-lamat tapi menyerap
menenggelamkan yang ada
yang masih bertahan

Kaisar Cendana yang dulu selalu senyum
sudah sama dirasakan betapa semua itu selalu mengancam
garangnya api - buasnya binatang - kejamnya watak serdadu
berbaur selama puluhan tahun
selama itu pula kita saling bertengkar
bahwa dia baik, dia baik, bapaknya pembangunan
dan kini apa yang tampak?
apa yang masih bersisa?

Kesengsaraan Rakyat kita
kemiskinan dan kebodohan terus tak mau hilang
sudah dua tiga generasi dia permalukan
sedangkan keturunannya sibuk dan saling rebutan
menumpuk - menyembunyikan - memindahkan harta kekayaan
sibuk membikin - merencanakan - mengerjakan
bagaimana menciptakan kebakaran-kebakaran baru
membuat huru-hara kecil huru-hara besar
biar dirinya dan keluarganya selamat
sedang diri kita dijadikannya puntung-puntung yang sia-sia
atau jadi abu dari api yang dulu menempa pabriknya
betapa mereka pernah pongah-angkuh
sedang kita pernah terkulai-lunglai di bawahnya
lalu lupakah kita
sedang di antara kita pernah merasa bangga
bila dekat-dekat
dan bisa sedikit-sedikit walaupun rada-rada menjilat
pabila bisa termasuk lingkungan orang-orang kuasa Cendana?

Lalu kini apakah bisa kita katakan
api kebakaran lama dulu itu sudah mau padam?
Sedang sebenarnya kebakaran-kebakaran kecil
sama-sama kita saksikan yang sana-sini pada muncul
yang bila kita biarkan seperti dulu
bisa-bisa kita dibakarnya lalu menjadi abu
sedang mereka terus membangun istana-istana baru
di atas pekuburan kita
di atas pekuburan para keluarga dan teman-teman kita.

20 Juli 98.-
Monday, October 27, 2003
Posted 6:34 AM by camar
PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(1948) Siasat, Th III, No. 96 1949


MALAM

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
--Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957



KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957


DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai



Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954



PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(1948)

Liberty,
Jilid 7, No 297,
1954


Thursday, April 03, 2003
Posted 6:01 AM by camar
AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Posted 6:01 AM by camar


PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943
Posted 5:59 AM by camar

HAMPA

kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala.
Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Posted 5:59 AM by camar

DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943

Posted 5:58 AM by camar
SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...
Posted 5:58 AM by camar
SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946

Posted 5:58 AM by camar
CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946

Posted 5:57 AM by camar

MALAM DI PEGUNUNGAN

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947
Posted 5:57 AM by camar
YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949

Posted 5:53 AM by camar
DERAI DERAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

Sunday, May 25, 2008

Bang

“Seandainya tempat ini masih ada, mencari makan tidak akan sesulit ini.” Ucapan bernama keluh kesah ini muncul dari mulut seorang Fitri, kurang lebih enam tahun lalu.

Fitri. Ia bukan perempuan luar biasa. Perempuan berpupur ini hanyalah seorang penjaja diri di bekas komplek prostitusi Kramat Tunggak.

Sebuah tugas jurnalistik telah menghantarku ke komplek itu di suatu hari, menjelang malam yang larut. Dua botol bir dan kacang asin, menemani obrolan kami sampai jauh malam, sebelum aku pamit.

”Mau kembali ke kapal, besok sudah harus berlayar,” kataku sekenanya. Jujur, aku hampir kehabisan akal saat Fitri memaksa aku tinggal lebih lama dan melanjutkan obrolan di tempat lain.

Sebetulnya kisah ini sudah mengendap begitu lama di ingatan. Ia muncul kembali setelah aku tertumbuk pada sebuah obituari. Ali Sadikin berpulang.

Kramat Tunggak dan Ali Sadikit adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Mantan Gubernur DKI Jakarta itulah sosok yang membangun komplek yang dulu berpagar beton tinggi mengangkang itu.

Di tangan Bang Ali—demikian pensiunan Marinir itu akrab dipanggil, pelacuran dilegalisasi dan dilokalisasi. Demikian pula dengan perjudian.

Olehnya, Jakarta pun menggeliat dengan duit-duit yang mengalir dari bisnis “haram” itu. Rakyat menikmati Jakarta yang bak lampu Aladin, bersolek seusap tangan.

Banyak orang yang mencela dan mencemooh Bang Ali. Tapi, di Kramat Tunggak aku bisa sedikit memahami alam pemikirannya. Pelacuran bukanlah persoalan gampang, sebab ia sudah ada sejak manusia ada.

Bagi Bang Ali, lebih baik pelacuran itu dilokalisasi. Agar ia tak menyebar ke tempat lain. Dan agar ia pun bermanfaat bagi banyak orang.

Di Kramat Tunggak ada ribuan orang yang menangguk rupiah untuk kehidupannya. Mulai dari para penjaja kenikmatan, sampai mereka yang bergantung pada bisnis makanan, penginapan, dan sebagainya.

Saat Kramat Tunggak digusur, ada banyak orang yang bersujud syukur. Tapi ada banyak orang pula yang merasakan dunia seperti terbalik. Mereka kocar kacir, seperti beras tumpah dari tampah.

Tak hanya kehilangan mata pencaharian, itu juga menyebabkan persoalan-persoalan lain. Para penjaja kenikmatan tak lagi terkontrol. Bibit penyakit kelamin pun mengancam tak terkendali lantaran tak ada lagi yang memeriksakan kesehatan secara rutin,

Itu baru satu di antara segunung persoalan, bak tiada habisnya.

Pada akhirnya, Kramat Tunggak pun berlalu, sebagaimana Bang Ali berlalu bersama waktu. Ia menyerah di saat rakyat negeri ini bertabur harap pada sebuah kebangkitan bersama, sebelum terkubur lagi bersama harga BBM yang menjulang.

Ia berpulang di saat negeri ini mulai kehilangan sosok-sosok pemimpin yang bisa menyelami perasaan rakyatnya. Ia menjadi contoh yang berbeda, yang sayangnya, tak sempat kita nikmati lebih lama.

Ia berpulang ke suatu tempat yang sudah menantinya. Tapi kota yang ditinggalkannya, sedang berjalan ke tempat, yang entah di mana ujungnya. Ke bentuk, yang entah apa rupanya.

Bisa jadi ia kelak adalah kota megah bertabur bintang-bintang. Tapi bisa jadi pula ia akan tinggal reruntuhan belaka, seperti tembok Kramat Tunggak itu.

CAMAR

Wednesday, April 16, 2008

Sahabat Pergi

Seorang teman pergi (lagi)

Kabar itu tiba
Menyentak dini hariku yang sibuk
“Ded, gw gak tau lo udah denger kabar ini atau belum. Lisa Lukman sudah meninggalkan kita semua, wafat kemarin 14 apr 08 jam 3 subuh”.

Jantungku seperti berhenti berdetak
Sedih, haru, terkejut,
bercampur seperti
adonan mati yang tak bisa diperikan

Lisa,
sahabatku itu
Perempuan yang selalu hadir di pesan instannya:
Gadis kecil di depan jendela

Suatu kali mengejutkanku
di ruang maya
setelah lama tak terdengar kabarnya
Masih ceria dia
masih sama nada suaranya
tapi pertanyaannya membuat heran:
“Gue mau menyepi Ded, kemana ya?”
Entah beban apa yang ditanggungnya..

Tapi malam itu aku tak punya jawab
Komunikasi yang terputus membuatku tak berani banyak bicara
Malu
Selaku sahabat, lalai aku bertanya kabar
Sepertinya dia ingin banyak bercerita
Tapi keadaan membawanya pergi terburu

Kini semua bak terlambat
Gadis itu sudah menutup daun jendela selamanya
Air mata pun tak bisa menjawab sesal

Maaf, sahabatku sayang
Kuyakin kau sudah bertemu Dia yang kau rindu
Sosok yang membuatmu selalu tegar
Kala kau tergugu
Berbahagialah

Camar pada Lisa
Kebayoran, 01.00 WIB
Labels: duka, Lisa, puisi, sahabat, wafat

Tuesday, April 08, 2008

In Loving Memory

Dari gegap ramai orang-orang di gedung menjulang
Sosokmu tiba membayang..
Bertahun sudah engkau pulang
Ke tempat di mana kini engkau bahagia

Hari ini.. dulu..
Tangis itu membuncah
Saat tubuh kakumu terbujur
Hati bertanya: mengapa?

Tapi, kini tak ada ratap untukmu
Sebab ku yakin, bahagia telah jadi milikmu
Sedang kami, tergugu pada tubuh fana ini

Ibuku, gembalaku,
Penunjuk jalanku
Yang menarikku dari jurang gelap
Membawaku terbang ke angkasa
Belajar terbang
dan terbang sebagai hidup
Chiang.. yang membuatku menjadi jonathan.

Ah, ibuku
tangisku dulu
Adalah saat kusadari
tak ada lagi orang
yang memiliki hati
seluas hatimu
Kau satu-satunya Chiang bagiku
dan kini kau pergi
meninggalkan ketiadaan

Tapi, hidup mesti berlanjut bukan?
Meski tak ada lagi chiang..
bahkan--seorang pun tak bisa menggantimu- -
Tapi aku adalah jonathan
Di belakangku ada camar-camar lain
Menanti untuk belajar terbang
Aku mesti terbang di atas sayapku sendiri

Bila berlindung
Satu-satunya adalah pada kepak sayap Dia
Chiang kita yang sesungguhnya. .
bukan lagi pada manusia

camar

7 April 2008

Bogor

Sunday, January 27, 2008

Pak Tua Mangkat

Hari menjelang magrib
Pak Tua ngantuk..
Istri manis menunggu..
istirahatlah..

Pak tua sudahlah..
Engkau sudah terlihat lelah.. o ya..
Pak tua...

Sekelumit lagu yang pernah ngetop pada era 1900-an itu tiba-tiba menggema saat kabar kematian Soeharto tiba di ponselku. Sulit menggambarkan perasaan yang timbul sesaat setelah kabar itu datang.

Yang jelas, seorang anak manusia sudah berpulang.
Entah dimana jiwanya kini berada,
Di dunia kematian? Atau dibawa ke samping Tuhan
Hanya Tuhan yang tahu

Soeharto? Bagaimana merunut gambarannya dalam hidupku?

Dulu,
Sosok itu pernah memenuhi ruang pikiran kanak-kanakku
baik dan mengagumkan.
Bapak pembangunan, kata buku-buku sekolahku.

Sosok yang sama kemudian memenuhi ruang hati remajaku
Hati yang membara, dalam kemarahan
Tangan terkepal, mulut berteriak lantang
“Turunkan Soeharto!” “Turunkan Soeharto!”

Kemarahan kami berbayar lunas
nyawa meregang
darah tertumpah
Harga untuk sebuah reformasi (tepat sehari setelah ulang tahunku)
Darah yang kemudian terlupakan
Tak pernah jadi pahlawan!

Lalu kematian Soeharto?
Entah bagaimana menggambarkan perasaan ini, ketika kabar itu datang. Aku sedikit bingung.

Tapi, sontak aku tersadar.
Itu cuma sebuah kenyataan tentang perjalanan hidup seseorang
Tak lebih dan kurang.
Seperti kelak aku dan kau.

Seperti saat iring-iringan jenazah berlalu di udara Jakarta
Lalu bersemayam di bumi Astana Giribangun..
Berlalu pulalah kisahnya.
Kisah, seorang manusia bernama Soeharto.
Begitu saja.
Seperti kelak aku dan kau

Sebelum lagu Pak Tua habis dari anganku
Aku berlalu dan melangkah..
Membimbing jemari mungil, sang penerus hidupku
“Masa lalu biar berlalu, nak!” kataku berbisik di telinganya.

Masa bapak itu sudah habis..
Kisahnya sudah tuntas
Biarkan buku sejarah dan kenangan
yang menyimpannya, sampai kemudian punah usang.

“Tapi kaulah masa kini dan masa depanku,” kataku lagi pada gadis kecil itu, Sebelum kaki kami melangkah pergi, bersisian meski sesekali dia tersandung.

Kami pun tertawa.

Camar

Thursday, January 03, 2008

Natal

Natal itu adalah kemiskinan

Sebab Natal terjadi di kandang kumuh
Bukan di istana Herodes
atau bait-bait suci para Imam
yang berbalut tembok-tembok megah

Natal bukan di ruang gerlap gemerlap pusat perbelanjaan
Bak-bak bertumpuk menawarkan potongan harga

Bukan di ruang-ruang suci gereja megah
Dengan pondok aneh
Pondok kayu tapi palsu
Teronggok sepi di pojokan
Dengan boneka terbalut kain wangi

Bukan di ruang-ruang rumah
Pohon plastik warna-warni di ruang tamu
Lampunya kerlap-kerlip
Dan sisipan salju kapas nan lucu

Natal bukan pula hidangan enak di permukaan meja
Harum memancing lapar dan selera

Natal itu adalah kemiskinan
Pertandanya sebuah kandang berbau kotoran
Hitam, coklat, dan pupus
Lampin penutup pun sederhana
Bahkan, yang terbuang dari yang tak diinginkan

Natal hadir dalam kesunyian
Malam penuh penolakan
Sekedar tempat membaringkan tubuh nan letih
Kaki berselaput debu
Sebuah perjalanan panjang ayah dan ibu

Tak ada gemerlap lampu kerlap-kerlip
Atau gemintang hiasan warna-warni
Pun lagu-lagu semarak
yang membuat hari Natal begitu berisik

Sedikit wewangian dan kemewahan
adalah hadiah-hadiah dari trio orang bijak
dari jauh membawa sukacita

Natal adalah kemiskinan
Saat sang Penguasa
mengambil rupa seorang hamba
Sang Pemilik Hidup
Mengambil tubuh serba terbatas
Menyusu pada tetek ibu
Merangkak pada lutut
Bahkan berbuang hajat di popoknya

Tapi yang miskin itulah yang membawa damai
Bukan damai senyap haru dan tenang

Tapi damai dari seteru
Damai dari kutuk
Damai dari yang terusir
Berdamai kembali dengan Tuhan
Setiap orang tak lagi menjadi seteru-Nya

Lewat kemiskinan Natal,
setiap orang berhak pulang ke Taman Eden
Menikmati kekayaan baru
Kekayaan yang tak dapat dibandingkan dengan apapun

Kekayaan itu adalah pengampunan
Kekayaan itu adalah kesempatan
Kekayaan itu adalah harapan
Kekayaan itu adalah pemulihan
Kekayaan itu adalah hidup yang kekal

Maka benarlah kata Firman:
“Berbahagialah mereka yang miskin
Sebab merekalah empunya Kerajaan Surga”

Selamat Hari Natal!

Dari Sorga, damai telah hadir di Bumi

- Camar -

Tuesday, November 27, 2007

Di Mana

Di mana pernah kulihat wajah renta itu
Tertunduk melangkah
dengan kaki gemetar
Pasi dengan kerut-merut di sekujur tubuh?

Menapak sejengkal demi sejengkal
lorong-lorong itu
Seulas senyum diberi
Bagi siapa saja yang menegur
Atau sekedar tanya
meski dia tahu cuma basa-basi

Di mana pernah ku ingat tubuh ringkih itu
Berdiri di sudut ruang
bersuara lirih
nyaris tak terdengar

Kerap juga tak perduli
pada bisik-bisik gemerisik
atau seru si kurang ajar
yang bikin onar?

Bapak tua guru renta
Di mana pernah kulihat?

Bukankah dari masa laluku
Di antara tiang-tiang koridor
Bilik-bilik kelas nan rapuh
Dari lubang-lubang di dinding
atau gema dinding bisu
Kusam pada warna yang termakan waktu
Sekolahku dulu?

Sepimu kurasa sampai kini
bau kapur putihmu terhidu sampai di sini

Walau kemarin,
Kudengar engkau telah pergi
Membawa kisahmu sendiri
Jadi sejarah atau sekedar melalu?
Biarlah kami tanya pada hati sendiri

Camar, 28 November 2007
Untuk Guru
Labels: puisi

Monday, November 26, 2007

Pada Samudera

Pada pantai
di mana Ombak tercampak
terderai lamat-lamat
sebelum pulang
menjadi buih

Di manakah cinta terkoyak?
Pada alam yang tak lagi bisa dipercaya?

Pada lautan
di mana kepalsuan terpapar
Di kejauhan indah sungguh
Tapi membuatku hampir muntah
Teralun pada gelombang
Geliat yang tersamar
bila kau tak mendekat

Mungkinkah bersetubuh
antara harapan malam ini
dan kenyataan pagi esok
Ketika diam kaki
Keluh hati
pada bumi yang gonjang
pada tangis anak kami
malam ini

Pada samudera
yang berganti rupa
Ketika cintanya pada pulau dan pantai
dicuri angin gemintang di langit
atau awan-awan yang membawa bencana

Pada malam
hari-hari penantian
Hati yang tak sabar
anak-anak kami yang tak mau mengerti
Atau tungku yang senyap
seperti hati ini

Camar, 26 November 2007

Oleh-oleh dari Buton, Sulawesi Tenggara

Cemara ~ Chairil Anwar

Oktober 13, 2007
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Chairil Anwar
1949

Malam Di Pegunungan ~ Chairil Anwar

Oktober 12, 2007
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

Chairil Anwar
1947

Malam ~ Chairil Anwar

Oktober 11, 2007
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Chairil Anwar
Zaman Baru, No. 11-12; 20-30 Agustus 1957

Karawang-Bekasi ~ Chairil Anwar

Oktober 7, 2007
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar (194 8)
Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957

Di Masjid ~ Chairil Anwar

Oktober 6, 2007
Kuseru saja Dia
sehingga datang juga
Kamipun bermuka-muka

seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada
Segala daya memadamkannya

Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda
Ini ruang
gelanggang kami berperang

Binasa membinasa
satu menista lain gila

~ Chairil Anwar

Yang Terampas Dan Yang Putus ~ Chairil Anwar

September 30, 2007
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
Chairil Anwar
1949

Persetujuan Dengan Bung Karno ~ Chairil Anwar

September 29, 2007
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

Chairil Anwar (194) 8)
Liberty, Jilid 7, No 297, 1954

Maju ~ Chairil Anwar

September 29, 2007
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

Chairil Anwar
Februari 1943

Penerimaan ~ Chairil Anwar

September 27, 2007
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Chairil Anwar
Maret 1943

Dengan Mirat ~ Chairil Anwar

September 26, 2007
Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas

Aku dan engkau hanya menjengkau
rakit hitam

‘Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran hitam?

Matamu ungu membatu
Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu

Chairil Anwar
1946

Diari Seorang Papa ~ Mya Marja

Mei 29, 2008
Aku lelaki papa
melangkah kata makna
terjerut hutang berjela
lantaran tuntutan dunia
yang melangit segala harga.

Aku lelaki lara
terlontar di gurun gersang
kehidupan
dan aku makin kontang
kering diterik duga
segala uji kulihat derita
namun tak sanggup mengemis lara.

Biar kulangkahi harapan
dengan perit nan dalam
tewas bukan pengakhir jalan.

MYA MARJA
Bandar Seri Jempol, NS

Gurindam Dambaan Insani

Mei 28, 2008
Berikan aku sehembus cinta
biar kudinginkan jiwa meronta.

Hulurkan aku secubit kasih
menyebar belas takkan tersisih.

Tebarkan padaku sejambak simpati
harumlah nanti membujuk hati.

Kurela hadirnya semangat membara
tak gusar kutempoh hangat sang lara.

Sinaran ikhlas pada malam meminjam
merajai siang hingga aku terpejam.

Mutunya pada kesucian cinta
walau dipinta tak terjangkau tinta.

NOR AFIQAH MOHD SIDEK
Senawang, Negeri Sembilan.

Dari Benua Cinta Penyair ~ Kemala

Mei 27, 2008
Dari benua cinta penyair
ke tanah bertuah bangsa
selepas setengah abad
mencecapi makna merdeka

1
Dari Benua Cinta penyair kujelang Tanah Bertuah Bangsa
Kuendapkan kelezatan maknawi mencecapi setengah abad

merdeka.
Merdeka hakiki, merdeka hayati, merdeka batini, merdeka

kecubung
Mimpi berpalang, belenggu keroyokan asing
Empat-setengah abad. Kami adalah bulan putih, matahari
Bersinar membinari hidup. Kami adalah
Kedaulatan pertama. Ilahi merestui dan mematrai
Selaksa gurindam, bergugusgugus doa kudus.
Dari Benua Cinta Penyair
Ke Tanah Bertuah bangsa. Kami membaca
Hikayat Delima Derita
Dengan liangliang sukma kami
Dibantai pelurupeluru bandit.
Kami menempeli lembaran yang robek dimakan bubuk
Dan anaianai. Merbau dan Kruing, Nibung dan Petaling
Kami pikul dari belantara gelap kini tertancap di dadamu
Seribu tiang seri Rumah Warisan
Monumen Keprihalan pahlawanpahlawan kecil
Tak bernama, hilang tak kembali di malam kemerdekaan
Yang gerimis. Ada desis mendesis tiba,” Kami hilang tapi
Roh kami tetap mengusap tiap jalur, bulanbintang panjipanji
Itu tubuh, darah dan kalbu kami. Kami gugur
Demi maruah pribumi dan daulah para leluhur!”

II
Selepas setengah abad terdampar, di hadapan kalian kini
Limapuluh album lusuh. Tangan mulus srikandi mana
Bakal mengelus dan menyeka debudebu musim
Menyusun, mengitar, mengawet potret tua pada sudut
Album baru yang sahih. Ada yang kelabu, ada yang

tercetaicetai
Terperangah dicakar serigala lapar. Ada kebenaran yang
Tetindih dan ada sukma wangi dihunjami tangkulak.
Aduh, dimanakah Jiwa anggun dahulu, Kekasihku?
Aku menerjang ke malammalam sepi yang panjang.
Aku menggali wilayah karang tajam di dasar laut dalam
Ini pancaroba. Ini kerikil tasbih ditampar taufan.
Rindu apakah ini Kekasihku? Qasidah tajalli benangnya
Rohani. Nasyid dan Ghazal, Seloka dan Pantun
Bersatu dengan dendam berkurun. “Kembalikan Diri
Yang terpenjara, dicambuk mungkar Karun
Sebelum padam api kemerdekaan anggun!
Dari Benua Cinta Penyair, ke Tanah Bertuah Bangsa
Selepas mencecapi Makna Merdeka
Angin tanah air berkesiur, “Ini kemerdekaan,
Ini kunci iman, Rindu Keanggunan, bara hasrat
Yang kugenggam dari binar tujuh cakrawala,
Bak Cinta kasmaran menembusi tujuh lapis bumi
Lalu kucanai Kunci Firasat, Kunci Makrifat
Kunci Hakiki,
Kunci Kasih
Kunci Rohani!

KEMALA
Kuala Lumpur, 10 Mac 2007
( DEWAN BUDAYA Mei 2007 )

Dari Lingkungan Hidupnya Anak-anak Belajar

Mei 27, 2008
Jika anak dibesarkan dengan celaan
Ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan
Ia belajar menentang
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan
Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi
Ia belajar jadi penyabar
Jika anak dibesarkan dengan dorongan
Ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian
Ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan
Ia akan terbiasa berpendirian

~ Dorothy Law Nolte

Kulit ~ Abdul Rahim Idris

Mei 26, 2008
Jangan lihat pada kulit
Belum tentu
Yang hodoh itu jahat
Belum tentu
Yang cantik itu baik
Jangan lihat pada kulit
Belum tentu
Yang hodoh itu baik
Belum tentu
Yang cantik itu jahat
Jangan lihat pada kulit
Belum tentu
Belum tentu
Belum tentu

Abdul Rahim Idris
19 October 2003

Makna Sebuah Titipan ~ WS Rendra

Mei 23, 2008
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :

sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
~ WS Rendra

Pakaian Baru (Buat Abang) ~ Kamal Sujak

Mei 22, 2008
Syukurlah
Tuhan telah membukakan
pintu hatinya untuk kembali
menanggalkan pakaian semalam
yang penuh terpalit noda hitam
di almari kenangan.

Lalu bersungguhan dia menguncinya
dengan keimanan
agar tidak lagi terlanjur sesalan.

KAMAL SUJAK
Cyberjaya, Selangor
31 Julai 2007

Selamat Malam Bandung ~ Kemala

Mei 21, 2008
(untuk ken dan rendra)
Antara romantisme gunung
dan hiruk pikuk trafikmu
puisi dilontar dan dihantar ke podium
di melenium inipun
rahwana menggerogoti sinta
dan rama meruap api cemburunya

Tembang demi tembang
penyair ingin keluar dari sarung leluhurnya,
menjeritkan
‘kami bukan si malin kundang’
menolak ragu dan sesal
kami adalah syurga dan neraka sekaligus
tepuk dan bujuk
asyik yang bermata sepuluh

Kutatap lembah suburbia
singgah singkat di galeri salasar dan popo
garis, pecahan kaca atau wanita telanjang
warna abstraksi dan galauan
dan siratan magisme, kecapi ottih
“negeri abadi” dan tatapan
para leluhur menenggang duka
patah kendali. bandung yang sesak
hijau, hijau alpokat, jeruk dan salak
angkot ribut mendesakdesak
sayup sampai, pluit kereta api singgah dari jakarta
atau yang tadi dari surabaya, mata yang layu, tangan
yang jenuh
kelapa muda dan farid maulana
meramu jeans levis strauss
buku puisi, mukena dan jerembab kembang
mimpi sulit datang, meremang liar, souveniers
puisi dan penyair, metafora magistik
bergantungan di langit.

Selamat malam bandung
azan dari masjid firdaus
serap seni, daif diri, bangkrut budaya
huyung-hayang bulan tak bersari
jeriji maut dan angin bangkit abad
tanah yang dilelang, seringai paman doblang
di kuburnya, petani gaduh merana dan lusuh
para dewa menggewangi ladang rampokannya.

Dari titik ke titik
dapatkah puisi merambah duka maha insani
antara tidak apa-apa, nol dari fungsi
suara menopang telatah. desis dan bisik
‘tidak apa-apa’ kita adalah kekosongan dan
kekosongan itu kita!
heran, kata-kata hilang magisme
dia masih terus menulis dan sedia
untuk tidak apa-apa
walhal seni memertabat insani
bulan putih, violet yang diturunkan
tuhan dari syurga kekuasaanNya
selamat malam bandung
kota kembang tak jemu-jemu bersenandung.

KEMALA
Bandung-Jakarta
April 2002
(Ziarah Tanah Kudup 2006:82-83)

Pantun Sepuluh Kerat

Mei 20, 2008
Baju dastar kesumba
    Seluar gunting petani
        Jahitan nyonya kampung Erah
            Di hilir pasar Kampung Melaka              
               Singgah di rumah nahkodanya
Batang emas dahan suasa
    Buahnya intan dengan padi
        Bunga diisap burung merak
            Pipit hendak hinggap di rantingnya
                Adakah boleh oleh yang punya

Fikiran Dan Samadi ~ Khalil Gibran

Mei 19, 2008
Hidup menjemput dan melantunkan kita dari satu tempat ke tempat yang lain; Nasib memindahkan kita dari satu tahap ke tahap yang lain. Dan kita yang diburu oleh keduanya, hanya mendengar suara yang mengerikan, dan hanya melihat susuk yang menghalangi dan merintangi jalan kita.
Keindahan menghadirkan dirinya dengan duduk di atas singgahsana keagungan; tapi kami mendekatinya atas dorongan Nafsu ; merenggut mahkota kesuciannya, dan mengotori busananya dengan tindak laku durhaka.
Cinta lalu di depan kita, berjubahkan kelembutan ; tapi kita lari ketakutan, atau bersembunyi dalam kegelapan, atau ada pula yang malahan mengikutinya, untuk berbuat kejahatan  atas namanya.
Meskipun orang yang paling bijaksana terbongkok kerana memikul beban Cinta, tapi sebenarnya beban itu seiringan bayu pawana Lebanon yang berpuput riang.
Kebebasan mengundang kita pada mejanya agar kita menikmati makanan lazat dan anggurnya ; tapi bila kita telah duduk menghadapinya, kita pun makan dengan lahap dan rakus.
Tangan Alam menyambut hangat kedatangan kita, dan menawarkan pula agar kita menikmati keindahannya ; tapi kita takut akan keheningannya, lalu bergegas lari ke kota yang ramai, berhimpit-himpitan seperti kawanan kambing yang lari ketakutan dari serigala garang.
Kebenaran memanggil-manggil kita di antara tawa anak-anak atau ciuman kekasih, tapi kita menutup pintu keramahan baginya, dan menghadapinya bagaikan musuh.
Hati manusia menyeru pertolongan ; jiwa manusia memohon pembebasan ; tapi kita tidak mendengar teriak mereka, kerana kita tidak membuka telinga dan berniat memahaminya. Namun orang yang mendengar dan memahaminya  kita sebut gila lalu kita tinggalkan.
Malampun berlalu, hidup kita lelah dan kurang waspada, sedang hari pun memberi salam dan merangkul kita. Tapi di siang dan malam hari, kita sentiasa ketakutan.
Kita amat terikat pada bumi, sedangkan gerbang Tuhan terbuka lebar. Kita memijak-mijak roti Kehidupan, sedangkan kelaparan memamah hati kita. Sungguh betapa budiman Sang Hidup terhadap Manusia, namun betapa jauh Manusia meninggalkan Sang Hidup.
~ Khalil Gibran

Menyatu Dalam Cinta

Mac 29, 2008
Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit. Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi.
Para tabib menyarankan bedah, “Sebagian darah dia harus dikeluarkan, sehinggu suhu badan menurun.”
Majnun menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah terhadap saya.”
Para tabib pun bingung, “Kamu takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar hutan seorang diri. Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”
“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun.
“Lalu, apa yang kau takuti?”
“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”
“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yangn dibedah badanmu.”
“Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku. Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.”
~ Jalaluddin Rumi (Masnawi)

‘Mati’ sebelum Engkau Mati ~ Jalaluddin Rumi

Februari 5, 2008
Tafsiran Muutu Qabla anta Muutu : Rumi
(’Mati’ sebelum Engkau Mati)
Kau sudah banyak menderita
Tetapi kau masih terbalut tirai’
Karena kematian adalah pokok segala
Dan kau belum memenuhinya
Deritamu tak kan habis sebelum kau ‘Mati’
Kau tak kan meraih atap tanpa menyelesaikan anak tangga
Ketika dua dari seratus anak tangga hilang
Kau terlarang menginjak atap
Bila tali kehilangan satu elo dari seratus
Kau tak kan mampu memasukkan air sumur ke dalam timba
Hai Amir, kau tak kan dapat menghancurkan perahu
Sebelum kau letakan “mann” terakhir…

Perahu yang sudah hancur berpuing-puing
Akan menjadi matahari di Lazuardi
Karena kau belum ‘Mati’,
Maka deritamu berkepanjangan
Hai Lilin dari Tiraz, padamkan dirimu di waktu fajar
Ketahuilah mentari dunia akan tersembunyi
Sebelum gemintang bersembunyi
Arahkan tombakmu pada dirimu
Lalu ‘Hancurkan’lah dirimu
Karena mata jasadmu seperti kapas di telingamu…

Wahai mereka yang memiliki ketulusan…
Jika ingin terbuka ‘tirai’
Pilihlah ‘Kematian’ dan sobekkan ‘tirai’
Bukanlah karena ‘Kematian’ itu kau akan masuk ke kuburan
Akan tetapi karena ‘Kematian’ adalah Perubahan
Untuk masuk ke dalam Cahaya…
Ketika manusia menjadi dewasa, matilah masa kecilnya
Ketika menjadi Rumi, lepaslah celupan Habsyi-nya
Ketika tanah menjadi emas, tak tersisa lagi tembikar
Ketika derita menjadi bahagia, tak tersisa lagi duri nestapa…

(Mawlana Jalal ad-Diin Rumi)

Kembali Pada Tuhan ~ Jalaluddin Rumi

Februari 4, 2008
Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.

Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
kerana Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.

Begitulah caranya!
Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayuhlah datang, dan datanglah lagi!

Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu,
kerana Akulah jalan itu.”

~ Jalaluddin Rumi

Empat Lelaki Dan Penterjemah ~ Jalaluddin Rumi

Januari 31, 2008
Empat orang diberi sekeping wang.
Pertama adalah orang Persia, ia berkata, “Aku akan membeli anggur.”
Kedua adalah orang Arab, ia berkata, “Tidak, kerana aku ingin inab.”
Ketiga adalah orang Turki, ia berkata, “Aku tidak ingin inab, aku ingin uzum.”
Keempat adalah orang Yunani, ia berkata, “Aku ingin stafil.”
Kerana mereka tidak tahu erti nama-nama tersebut, mereka mulai bertengkar. Mereka memang sudah mendapat informasi, tetapi tanpa pengetahuan.
Orang bijak yang memperhatikan mereka berkata, “Aku tidak dapat memenuhi semua keinginan kalian, hanya dengan sekeping wang yang sama. Jika kalian jujur percayalah kepadaku, sekeping wang kalian akan menjadi empat; dan keempatnya akan menjadi satu.”
Mereka pun tahu bahawa sebenarnya keempatnya dalam bahasa masing-masing, menginginkan benda yang sama, buah anggur.
~ Jalaluddin Rumi

Jalan ~ Jalaluddin Rumi

Januari 30, 2008
Jalan sudah ditandai.
Jika menyimpang darinya,
kau akan binasa.
Jika mencuba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
kau melakukan perbuatan syaitan.

~ Jalaluddin Rumi

Siapa Di Pintuku? ~ Jalaluddin Rumi

Januari 29, 2008
Katanya, “siapa di pintuku?”
Jawabku,”hamba-Mu yang lata,”
Katanya, “urusan apa yang kamu punya?”
Jawabku, ” ‘tuk mencumbu-Mu ya Rabb,”

Katanya,”berapa lama bakal kau kembara?”
Jawabku,”sampai Kau cegat daku,”
Katanya,”berapa lama kau didihkan di api?”
Jawabku, “sampai diriku murni,”

“Inilah sumpah cintaku
Demi Cinta semata
Kutinggalkan harta dan kuasa.”

Katanya, “kamu buktikan kasusmu
Tapi, kamu takpunya saksi,”
Kataku,”Tangisku, saksiku
wajah pasiku, saksiku,”
Katanya, saksimu takpunya sahsiah
matamu membasah ‘tuk dilihat.”
Jawabku,”atas kerahiman, adil-Mu
Mataku cerah dan tanpa salah,”

Katanya,”Apa yang kaucari?”
Jawabku, “Kamu! ‘tuk jadi rekan dampinganku,”
Katanya, “apa yang kamu mau dariku,”
Jawabku,”Kemuliaan, kemesraanmu,”

Katanya,”Siapa teman sekembaramu?”
Jawabku,”Ingatan kepada-Mu, O Sang Raja,”
Katanya, “Apa yang membuatmu ke mari?”
Jawabku,”Kelezatan anggur-Mu,”

Katanya, “Apa yang membuatmu puas?”
Jawabku, “Dampingan-Mu Sang Maharaja”
Katanya,”Apa yang kamu temui di sini?”
Jawabku, “Seratus keajaiban,”
Katanya,”Mengapa istana ditinggal porakperanda?”
Jawabku,”Mereka takutkan perampok,”
Katanya, “Siapa perampok itu?”
jawabku,” Seseorang yang lari dari-Mu,”

Katanya,”Tidak adakah keselamatan di situ?”
Jawabku,”Dengan hadirnya Cinta-Mu,”
Katanya,” Apa faedah yang kamu terima dari kehidupan?”
Jawabku,”Dengan jujur kepada diriku,”

Kini masa untuk menyepi.
Kalau kukatakan padamu tentang intisari sebenarnya
Kau bakal terbang, dirimu akan sirna
Dan tiada pintu, tiada bumbung dapat menarikmu kembali.

JALALUDDIN RUMI
( IN THE ARMS OF BELOVED)

Terjemahan: Dato Dr Ahmad Kamal Abdullah (Kemala)
 

Bahagia Sejenak ~ Jalaluddin Rumi

Januari 28, 2008
Bahagia sejenak
kamu dan aku duduk di serambi
kita dua, tapi satu roh, kamu dan aku
kita rasa aliran air kehidupan di sini
kamu dan aku dengan keindahan taman
dan burungburung bernyanyi
bintangbintang menatap kita
dan kita menanyakan mereka
‘gimana mau menjadi bulan sabit kecil
kamu dan aku bukan diri, bakal menyatu
takberasingan, betapa spekulasi kamu dan aku.
tiong syorgawi bakal retakkan gula
waktu kita tertawa bersama, kamu dan aku
dalam satu bentuk di muka bumi ini
dan dalam bentuk lain di bumi manis
di kebebasan waktu yang tak tecatat

JALALUDDIN RUMI
Kuliyyat-e Shams, 2114

Terjemahan: Dato Dr Ahmad Kamal Abdullah (Kemala)
 

Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai

Januari 14, 2008
Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan. Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”
Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan : “Bukankah Aku ini Rabbmu ?”
Petikan dari Jalaluddin Rumi : “Kisah Keajaiban Cinta”

Tertutuplah Pintu- Bahasa ~ Jalaluddin Rumi

Disember 6, 2007
Ada kucupan yang sungguh kami ingini
pada sepanjang hidup kami,
sentuhan sang Jiwa pada tubuh kami.

Air laut memohon mutiara
agar memecahkan cengkerangnya.

Dan bunga Lili, sepenuh nafsu
menunggu Kekasih yang liar!

Ketika malam, kubuka jendela
kupinta bulan datang bertandang
dan membenamkan wajahnya pada wajahku.
bernafas ke dalam diriku.

Menutup pintu-bahasa
Membuka jendela-cinta.

Bulan yang tak memerlukan pintu
ia hanya rindu jendela yang terbuka.

~ Jalaluddin Rumi

Setelah Setahun Kesunyian ~ Jalaluddin Rumi

November 19, 2007
Tentang seseorang di pintu Sang Kekasih
dan mengetuk. Ada suara bertanya, “Siapa di sana?”
Dia menjawab, “Ini Aku.”
Sang suara berkata, “Tak ada ruang untuk Aku dan Kamu.”
Pintu tetap tertutup

Setelah setahun kesunyian dan kehilangan, dia kembali
dan mengetuk lagi. Suara dari dalam bertanya, “Siapa di sana?”
Dia berkata, “Inilah Engkau.”
Maka, sang pintu pun terbuka untuknya.

~ Jalaluddin Rumi

0 komentar:

Popular Posts

Antara Konsep Saya dan Amien Rais

Imam Supriadi


Prof. Dr. M. Amien Rais

17 Langkah Membangun Indonesia


Amien Rais melihat masih banyak agenda reformasi yang belum tercapai seperti penegakan pemerintah yang bersih dan penegakan supremasi hukum, pemulihan ekonomi yang tak kunjung tiba, penggangguran yang meluas, harga-harga barang yang semakin sulit dijangkau. Kenyataan ini membuat kebanyakan masyarakat menganggap reformasi sudah gagal. Bagi Amien Rais reformasi total harus terus dilanjutkan. Berhenti dapat berarti kehancuran.


Berikut ini pokok-pokok pikiran Ketua Umum PAN Amien Rais untuk kelanjutan proses

reformasi total yang dirumuskannya dalam 17 langkah membangun Indonesia untuk mencapai tujuan reformasi yaitu masyarakat Indonesia yang berke-Tuhan-an, berperikemanu-siaan, bersatu-padu, berdemokrasi dan berkeadilan sosial. Pokok pikiran ini pernah disampaikannya dalam pidato penutupan sidang tahunan MPR 2003, 7 Agustus 2003.


Pertama, mempertahankan dan memperkuat NKRI sebagai pilihan akhir bangsa Indonesia. Dalam UUD 1945, terdapat pasal yang tidak boleh diubah (non-amandable article), yaitu pasal pasal 1 ayat (1) berdasarkan pasa137 ayat (5). PasaI 1 ayat (1) itu berbunyi: Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik. NKRI adalah ketentuan konstitusiona1 yang sampai kapan pun tidak dapat diubah. Tulang punggung bangsa yaitu TNI dan POLRI harus tangguh dan kuat. Mereka harus didukung oleh perangkat keras, perangkat lunak, dan persenjataan modern dan kesejahteraannya terjamin. Oleh karena itu, APBN harus mengatur jelas dan tegas budget untuk kedua lembaga strategis itu.


Kedua, meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia demi mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain. Pasa131 ayat 4 UUD 1945 menyebutkan: “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”. Dengan ketentuan konstitusi seperti ini masyarakat terutama mereka yang tergolong kelas menengah bawah menjadi prioritas.


Ketiga, meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi anak-anak Indonesia. Pelayanan imunisasi, persalinan, dan sanitasi menjadi fokus perhatian.


Keempat, berpihak kepada petani dan nelayan. Membuat kebijakan ekonomi yang berpihak kepada petani dan memberikan perlindungan dan sokongan kepada mereka.


Kelima, memperhatikan kesejahteraan kaum pekerja sehingga tidak hanya menjadi alat produksi.


Keenam, memberantas korupsi dengan keberanian, kelugasan dan ketegasan.


Ketujuh, melepaskan diri dari ketergantungan luar negeri dengan mengurangi utang luar negeri secara bertahap.


Kedelapan, membangun perekonomian nasional yang tangguh dengan konsep dan program pembangunan ekonomi nasional yang realistis, kenyal dan menomorsatukan kepentingan bangsa di atas kepentingan lain. Menata konglomerasi sedemikian rupa sehingga industri skala kecil dan skala menengah dapat tumbuh berkembang. Sektor informal perlu lebih diperhatikan karena mereka kedap terhadap goncangan-goncangan finansial regional dan internasional. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi untuk mengurangi pengangguran terbuka dan terselubung yang telah mencapai angka lebih dari 40 juta jiwa.


Kesembilan, memantapkan kehidupan demokrasi dengan memberantas segala bentuk diskriminasi. Kemajemukan tanpa diskriminasi dapat menjadi sumber kekuatan. Sebaliknya, kemajemukan disertai diskriminasi (agama, suku, ras, jenis kelamin, dsb) akan berakhir dengan kehancuran.


Kesepuluh, masa depan bangsa tergantung dari para pemuda zaman sekarang. Pepatah Arab mengatakan “ Syubbanul yaum rijaalul ghad” .Pemuda hari ini adalah manusia dewasa hari esok. Mencegah meluasnya pengaruh narkoba di kalangan anak-anak muda. Di Singapura dan Malaysia, seseorang yang terbukti memiliki beberapa gram dedah langsung dihukum mati. Tidak perduli apakah dia warga negara atau orang asing.


Kesebelas, mempertahankan kelestarian alam. Menghentikan kegiatan merusak lingkungan alam seperti penebangan liar hutan untuk mencegah khasanah flora dan fauna Indonesia, termasuk keragaman aneka unggas punah untuk selamanya. Untuk mencegah itu diperlukan progam mendesak:

a. Restrukturisasl HPH secara menyeluruh

b. Reboisasi intensif dan ekstensif di bawah tekanan waktu yang mungkin sudah tidak memihak lagi.

c. Mencegah sungguh-sungguh kebakaran hutan yang selama ini pasti terjadi setiap tahun yang telah menjatuhkan citra bangsa di dunia internasional.


Keduabelas, mengupayakan rekonsiliasi nasional untuk memperkokoh persatuan dan kerukunan nasional. Rekonsiliasi nasional itu memang mengandung banyak agenda. Membela anak atau cucu para aktivis PKI di tahun 1960-an dengan memberi hak sebagai warga negara secara penuh karena tidak ada dosa politik yag diwariskan. Rebuilding Maluku dan Maluku Utara dari segi sarana fisik, pemukiman, rumah ibadah, sekolah dll.


Demikian juga pemulihan kerukunan beragama di sana yang dulu pernah menjadi contoh par excellence di dunia. Dalam konteks Aceh, bila GAM sudah dapat ditanggulangi, maka rebuilding Aceh harus sejak sekarang mulai dipikirkan. Memulihkan harkat dan martabat rakyat Aceh; memberikan kompensasi optimal terhadap kezaliman sosial dan ekonomi yang diderita rakyat Aceh selama kurun waktu yang panjang; serta tidak pernah mengulangi lagi pelanggaran HAM di tanah Aceh oleh pemerintah Jakarta; semua itu merupakan program sangat mendesak. Demikian juga persoalan sosial, ekonomi dan politik di tanah Papua (Irian Jaya) harus dipecahkan lebih dini secara tegas, arif dan adil daripada menunggu persoalan menjadi lebih besar.


Ketigabelas, membangun politik luar negeri yang bebas dan akfif bukan dengan cara yang gamang, waswas dan kadang-kadang setengah hati, tetapi dengan pola politik luar negeri yang yakin diri, tegas dan mantap. Kebiasaan melakukan internasionalisasi masalah domestik dihentikan. Karena itu masalah yang bersifat domestik dipecahkan dengan kreativitas, kearifan dan kewaskitaan sendiri, tanpa harus mengundang pihak asing untuk mengintervensi.


Keempatbelas, bangsa Indonesia tidak boleh retak. Budayakan sikap kritis dan korektif terhadap diri sendiri maupun kepada-pihak lain. Akan tetapi semua itu harus dilakukan secara dewasa dan bertanggung jawab. Bung Karno sering mengingatkan bahwa a divided nation cannot stand. Sebuah bangsa yang retak ke dalam tidak mungkin dapat berdiri tegak.


Kelimabelas, kedaulatan harus dikembalikan kepada rakyat berdasarkan konstitusi, UUD 1945, Pasal 1 ayat 2 UUD 1945 yang mengatakan bahwa: Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD. “Tujuh puluh dua tahun yang lalu, Bung Hatta sudah mengatakan: Bagi kita, ra’jat itoe jang oetama, ra’jat oemoem jang mempoenjai kedaulatan, kekuasaan (souvereinteit). Karena ra’jat itoe djantoeng-hati Bangsa. Dan ra’jat itoelah jang mendjadi oekoeran tinggi rendah deradjat kita. Dengan ra’jat itoe kita akan naik dan dengan ra’jat itoe kita akan toeroen. Hidoep atau matinja Indonesia Merdeka, semoeanja itoe bergantoeng kepada semangat ra’jat. Penganjoer-penganjoer dan golongan kaoem terpeladjar baroe ada berarti, kalau dibelakangnja ada ra’jat jang sadar dan insjaf akan kedaulatan dirinja.

Keenambelas, menerapkan pasal-pasal HAM itu dalam kehidupan nyata secara konsisten dan konsekuen. Lewat UUD 1945, kini Hak Asasi Manusia (HAM) bangsa Indonesia telah terjamin dan terlindungi. Dalam UUD 1945 Bab Hak Asasi Manusia adalah bab yang terpanjang kedua setelah Bab Kekuasaan Pemerintah Negara. Bab Hak Asasi Manusia terdiri dari 10 pasal dan 26 ayat, dan ini merupakan pencapaian bangsa yang luar biasa.

Ketujuhbelas, melindungi seluruh aspek budaya dan melindungi serta mengembangkan kesenian daerah dalam segala cabangnya yang merupakan kekuatan bangsa. Sangat tepat pasal 32 ayat (1) UUD 1945 menentukan: ‘Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia ditengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”

Rujukan Fundamental

Untuk mengatasi 17 permasalahan bangsa tersebut, dalam rangka melanjutkan proses reformasi total, ada 6 (enam) rujukan fundamental.

Satu, lagu kebangsaan (national anthem). Bait-bait lagu kebangsaan itu laksana sumber inspirasi untuk terus menerus bersatu dan bersama membangun Indonesia yang merdeka, yang bangun jiwa dan badannya, yang selalu hidup berdinamika menuju Indonesia Raya.

Dua, sang saka merah putih. Bendera sang dwi-warna itu mengatasi seluruh bendera partai, kelompok, golongan dan setiap komponen bangsa. Bendera berbagai kumpulan anak bangsa boleh berbeda-beda, tetapi semuanya berada dalam naungan sang saka merah putih.

Tiga, bahasa Indonesia, bahasa pemersatu. Lewat bahasa Indonesia, ratusan lingua franca (bahasa daerah) yang ada di seluruh nusantara dapat dijembatani. Sulit membayangkan keutuhan bangsa Indonesia yang demikian majemuk tanpa adanya bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Empat, semboyan nasional, Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman dalam persatuan. Pergaulan antarenam agama yang resmi diakui Pemerintah, ditambah beratus-ratus suku bangsa, adat istiadat dan keragaman budaya menjadi demikian lancar, mudah dan egaliter karena motto nasional Bhinneka Tunggal Ika. Tidak boleh ada yang merasa superior tetapi juga tidak boleh ada yang merasa inferior satu sama lain. Semua anak bangsa bersaudara dalam pangkuan Bhinneka Tunggal Ika itu.

Lima, TNI dan Polri. TNI dan Polri yang berdiri di atas segala kelompok dan golongan niscaya menjadi salah satu perekat nasional yang sangat kuat. Sumpah Sapta Marga setiap prajurit TNI dan sumpah Tribrata Polri telah menjamin pengabdian yang lebih luas, pengabdian pada nusa dan bangsa, bukan pengabdian sempit pada suatu golongan atau kelompok bangsa. Angkatan Darat dengan semboyan Kartika Eka Pakci, Angkatan Udara dengan Swabhuana Pakca, Angkatan Laut dengan Jalesveva Jayamahe, dan Polri dengan Rastra Sewakottama, semua bekerja dan berjuang untuk membangun kejayaan nusa dan bangsa.

Enam, Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara. Pancasila terbukti telah berhasil menjadi konsensus dan perjanjian adiluhung bangsa Indonesia pada masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Tidak bisa dipungkiri Pancasila telah menjadi semen dan perekat paling kuat bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Dengan enam rujukan fundamental tersebut, ditambah keimanan dan keyakinan pada allah SWT, bangsa Indonesia tetap sanggup mengatasi berbagai halangan, tantangan, gangguan dan rintangan apa saja. ► ch robin simanullang, dari The Amien Rais Center. LANJUT


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia









Imam Supriadi

5 Tugas Utama Membangun Indonesia


Pertama, mengentaskan kemiskinan harus dilakukan secara benar, tepat dan terpadu. Pengentasan kemiskinan berpangkal dari miskin harta, miskin ilmu dan miskin iman.

Miskin dapat dibagi menjadi dua wilayah, yakni wilayah pedesaan dan wilayah perkotaan. Berbicara wilayah pedesaan, karena kebanyakan masyarakat di desa tidak memiliki lahan persawahan atau ladang tempat mereka bercocok tanam. Sebagian besar sawah atau ladang mereka habis, disebabkan oleh pembangunan perkotaan dan pemukiman. Mereka sebenarnya lebih banyak disebut petani penggarap, karena mereka hanya menggarap tanah milik orang kota

Untuk wilayah perkotaan, biasanya menyangkut lulusan universitas atau perguruan tinggi yang belum atau susah mendapatkan pekerjaan. Disamping itu adanya pengangguran akibat Pemutusan Hubungan Kerja dari Perusahaan-Perusahaan (biasanya perusahaan asing). Kelompok ini disebut BURUH, yang mendapat perlakuan tidak manusiawi, mereka dibayar dengan upah yang sangat rendah atau tidak memadai. Selanjutnya kelompok Pegawai Negeri Sipil, Guru dan juga Tentara dan Polisi yang masih menerima gaji yang tidak memadai atau jauh dari sejahtera.

Sudah miskin ’Harta’ atau tidak cukup penghasilan, mereka jelas tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, disebabkan oleh tingginya harga-harga kebutuhan barang konsumsi.

Di bidang kesehatan, berikan pelayanan yang baik dan benar serta tepat. Usahakan penebusan resep obat terjangkau. Bukan hanya kesehatan fisik tapi juga kesehatan lingkungan pemukiman, penting diperhatikan. Penyalahgunaan obat-obatan (Jenis Narkotika dan lainnya) jangan ada lagi. Di sektor Pengangguran, kelompok ini yang bisa menjerumuskan mereka menjadi berbuat kriminal. Penuntasannya adalah bukan hanya menyejahterakan mereka dengan kebutuhan ekonomi, namun juga kebutuhan ’Jiwa’, yakni masalah moral atau iman. Faktor ini harus juga dibenahi, yakni dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan juga kesempatan mendapatkan kesempatan mendapat pendidikan secara benar, tepat dan berdaya guna. Diusahakan sektor pendidikan harus terjangkau, murah atau gratis. Hal ini harus didukung dengan pembiayaan yang memadai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Konsep pendidikan yang berkiblat ke BARATmenyebabkan hasil dari mutu pendidikan kita rendah dan terbelakang atau terpuruk. Sudah tidak didukung anggaran yang tidak memadai, ditambah lagi kurikulum pendidikan yang tidak bersumber pada pendidikan AKHLAK atau BUDI PEKERTI atau MORAL. Saat ini mutu pendidikan kita bisa diukur dan dilihat dampaknya dari banyaknya tingkah atau perilaku para remaja dan pemuda yang berbuat kriminal, seperti pencurian, penodongan, pemerkosaan, pembunuhan dan juga perampokan. Hal ini ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka seperti itu, yakni rendahnya perhatian keluarga, lingkungan yang kumuh dan tidak kondusif, penghasilan keluarga yang tidak mencukupi hingga pengaruh budaya luar atau budaya BARAT yang mencekoki DUNIA PERGAULAN BEBAS DAN SEX BEBAS. Melalui Media tontonan TLEVISI, FILM dan ENTERTAIN yang menyuguhkan budaya yang tak sesuai dengan adat, budaya, etika ketimuran dan juga moral. Tanpa program yang awal ini, mustahil semuanya akan berjalan dengan baik dan sukses.

Kedua, memberdayakan SUMBER DAYA MANUSIA. Memberdayakan Sumber Daya Manuisa atau SDM adalah dengan cara sebagai berikut : memberdayakan Petan dan Nelayan, dengan cara memberikan Kredit Usaha Tani dan Nelayan disertai dengan Bimbingan Usaha Tani dan Nelayan (bantuan Manaejemen). Untuk kelancaran ini harus dicanangkan program dukungan yakni pemasaraan hasil-hasil pertanian dan perikanan dengan cara membantu mereka untuk mendistribusikan hasil-hasil pertanian dan perikanan mereka secara benar, tepat dan terpadu (Lintas Sektoral). Menarik mereka ke dalam kelompok-kelompok usaha tani dan Nelayan dan sarana perkoperasian yang baik dan benar. Berikan mereka Modal yang cukup dan pemasaran yang tepat. Berikan juga mereka Bibit Unggul, seperti Bibit Padi Unggul, Benih Ikan Unggul, Pupuk yang baik dan tepat, juga Alat Penangkap Ikan seperti Perahu Motor dan dukungkan BBM yang memadai.

Pemberdayaan selanjutnya adalah di sektor Pegawai Negeri Sipil, Guru/Dosen, Tentara dan Polisi, juga tenaga Buruh (sektor usaha swasta dan BUMN/BUMD). Mereka harus diberi kesempatan untuk berkarier yang seluas-luasnya dan menempatkan mereka pada jabatan-jabatan yang pas dan sesuai, dilihat dari faktor pengalaman dan keilmuan. Masalah kemampuan, baru bisa dilihat setelah mereka diberi Kesempatan Dan Kepercayaan. Tanpa memberikan Kesempatan dan Kepercayaan, mustahil mereka bisa dikategorikan mampu. Sebab, kapan mereka memegang suatu jabatan, bila untuk itu tidak diberikan.

Faktor lain yang juga tak kalah pentingnya adalah pemeberdayaan di sektor politik dan diplomasi. Sektor ini perlu dibenahi, karena politik kita selama ini hanya menjalankan politiknya Amerika dan sekutu-sekutunya (Inggris, Belanda dan negara-negara Uni Eropa lainnya serta Australia). Diplomat-diplomat kita tidak cukup tangguh dan berani. Hal ini terlihat selepas dari Figur-Figur seperti ADAM MALIK (Mantan Menteri Luar Negeri), Ali Alatas (Mantan Menteri Luar Negeri) dan juga Mochtar Kusumaatmadja (Mantan Menteri Luar Negeri),. Sedangkan saat ini, Menteri Luar Negeri Hasan Wirayudha boleh dikata tidak seperti ketokohan ketiga pendahulunya. Hasan Wirayudha ’lembek’ dan bisa dikendalikan oleh Amerika. Ingat, kasus kedatangan Meneteri Luar Negeri Amerika, CONDOLISA RICE (yang notabene Orang Yahudi), harus mendapat pengawalan yang sedemikian SUPER KETAT. Sudah menjadi kelaziman Amerika jika tidak merekrut atau menempatkan Menteri Luar Negerinya dari Orang Yahudi, bukanlah Amerika. Mereka (Orang-Orang Yahudi) senantiasa mendapat kehormatan untuk berada dibarisan terdepan, menjadi Menteri Luar Negeri, seperti Henry Kissinger (1973-1977, Menteri Luar Negeri dan 1969-1975 sebagai Penasihat Keamanan Nasional), Madeleine Albrigh (1997-20010).

Ketiga, pemberdayaan SUMBER DAYA ALAM, artinya memberdayakan Sumber Daya Alam secara baik, tepat dan benar. Hutan-hutan Indonesia yang sudah rusak atau gundul dan sebagian sudah menjadi lahanperkebunan (terakhir Hutan Lindung di Jambi diubah menjadi Areal Perkantoran Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau oelh pemerintah Kabupaten Bintan bersama salah seorang Anggota Dewan (DPR) yakni Al Amin Nur Nasution (telah ditahan oleh KPK) terasa menyesakkan, karena hutan sebagai paru-paru bumi dijarah dan dirusak oleh ulah manusia.

Hutan harus dilestarikan kembali serta dijaga/dirawat. Para Pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) harus ditinjau ulang/lagi. Sertakan masayarakat sekitar hutan untuk menjaga sekaligus pemilik aset yang sangat berharga itu melalui sebuah perusahaan atau Koperasi dengan memiliki saham dalam suatu perusahaan negara atau daerah dan juga koperasi.

Laut berserta fungsi-fungsinya seperti fungsi pelayaran, fungsi biota laut dan fungsi penelitian dan sekalgus fungsi rekreasi, harus digali dan digali serta dikembangkan. Pengelolaannya harus terpadu antar departemen atau instansi terkait. Sumber daya alam yang terkandung di bawah laut masih sangat banyak yang belum terambil dan termanfaatkan.

Keempat, Alih Tekhnologi, artinya masyarakat atau rakyat Indonesia tidak boleh ketinggalan atau tidak mengenal dan menguasai tekhnologi. Mulai dari sektor pertanian, yang sebagian besar menjadi tumpuan hidup rakyat Indonesia, yang sebagai negara agraris tapi kerjanya mengimpor, harus menggunakan tekhnologi secara maksimal dan tepat guna serta berdaya guna. Sektor perikanan/kelautan, kehutanan, perhubungan/transportasi; perkantoran dan sebagainya, harus diupayakan menggunakan tekhnologi internet. Juga di sekolah-sekolah dasar, sekolah menengah hingga perguruan tinggi (baik swasta maupun negeri) diwajibkan menggunakan internet. Sistem Perbankan dan sistem informasi penting lainnya. Saatnya memanfaat tekhnologi canggih.

Industri besar maupun kecil, termasuk industri rumah tangga, diberikan pengertian tentang manfaat tekhnologi canggih. Bukan hanya menggunakan tetapi juga membuat atau menciptakan tekhnologi baru yang berdaya guna dan berdaya saing, sehinga putera puteri Indonesia sudah mampu menguasai tekhnologi canggih.

Kelima, Industrialisasi, artinya tujuan akhir dari pembangunan telah nyata dan sampai kepada tahapan akhir, yakni menjadikan Indonesia sebagai negara industri dan negara maju. Bisa memanfaatkan tekhnologi tapi berbasis ramah lingkungan. Tumpuan pembangunan Indonesia sesunguhnya terletak pada sektor pertanian, sehingga industrialisasi yang dibangun dan dikembangkan mengacu pada sektor pertanian. Sebagai negara AGRARIS atau negara yang sebagian besar penduduknya hidup atau berasal dari mengolah tanah pertanian, maka sudah selayaknya kita menguasai tekhnologi untuk pertanian dan berjuang untuk menjadi negara industri yang bertumpu pada sektor pertanian. Semoga.

5 Faktor Pendukung Pembangunan

Selain 5 faktor utama diatas, masih harus didukung dengan 5 faktor pendukung, yakni sebagai berikut:

Pertama, Tertib Admnistrasi Umum; artinya semua program diatas harus didukung dengan tertib ini. Segala kegiatan harus tersimpan dalam dokumen atau file dan dalam bentuk tulisan, berupa catatan-catatan atau buku-buku, kuitansi-kuitansi, nota-nota dan dokumen tertulis lainnya, sebagai upaya cara untuk mendeteksi terhadap kesalahan dalam penyajian.tertib ini ada di bidang personalia/kepegawaian, bidang keuangan, bidang informasi atau kehumasan serta bidang-bidang lain.

Kedua, Tertib Personalia; artinya mulai dari sisi perencanaan, penyeleksian, penempatan hingga ke jenjang rotasi atau rolling pegawai atau mutasi pegawai, baik promosi maupun pemindahan dan juga pemensiunan pegawai, harus diupayakan tertib.

Ketiga, Tertib Keuangan; artinya segala pengeluaran atau belanja yang menggunakan uang negara atau daerah (APBN/APBD) harus sesuai dengan maksud penganggarannya dan seusai dengan kebutuhan, manfaat dari hasilnya segala macam kebutuhan (barang) yang diusahakan atau dibeli. Segi ekonomis menjadi dasar pertama, karena dilihat dari umur pakai serta tidak bersifat mubazir atau sia-sia.

Keempat, Tertib Peralatan/Perlengkapan; artinya terhadap pengeluaran atau penggunaan prasarana dan sarana, tak lepas dari masalah tertib ini. Penggunaan prasarana dan sarana yang dimaksudkan agar efisien, efektif dan ekonomis. Semisal pemakaian alat transportasi mobil, motor dan lainnya, begitu juga telepon, listrik, air dan sarana lainnya harus diupayakan dan ditujukan penggunaan secara efisien, efektif dan ekonomis.

Kelima, Tertib Organisasi/Manajemen; artinya setiap unit kerja harus disesuaikan dengan jumlah kebutuhan personil dan beban kerja yang ada, sehinggab tidak terjadi kelebihan maupun kekurangan personil atau beban yang semakin bertambah tapi kekuatan personilnya minim. Tujuannya adalah agar dalam segi pembiayaan tidak menjadi beban berat atau mubazir. Setiap unit kerja harus mengevaluasi beban kerjanya, karena dikhawatirkan personalianya tidak sanggup menyelesaikan dalam waktu yang telah ditentukan. Semisal, satu unit kerja seharusnya dapat dikerjakan oleh lima orang, namun dalam unit tersebut direkrut atau ditempatkan sebanyak sepuluh (10) personil, sehingga selebihnya yang lima orang adalah menjadi beban anggaran dan menjadi tenaga kerja yang kurang bisa dimanfaatkan.

Dasar Pemikiran

Melihat Indonesia dari sisi GEOGRAFIS DAN GEOPOLITIK.

Secara Geografis Indonesia berada dijalur atau garis khatulistiwa dan memiliki tingkat kesuburan tanah yang sangat memadai, begitupun dengan jumlah penduduk yang menempati urutan lima besar setelah Cina, Amreika, India dan Rusia. Sebagai pemeluk Agama Islam terbesar di dunia dan juga terpadat. Kenapa Belanda dan Jepang datang ke Indonesia, dikarenakan hal-hal seperti ini.

Secara Geopolitik, Indonesia ’dikepung’ oleh kekuatan-kekuatan besar seperti Amerika, Cina, Australia dan Jepang. Dari segi Ideologi, Cina adalah penganut faham Komunisme (Marxisme) dan faham Sosialisme, sementara Rusia menganut faham Komunisme (Leninisme) sedangkan Amerika menganut faham Kapitalisme dan juga Liberalisme

Harusnya Indonesia unggul disegala bidang, karena Indonesia memiliki tanah/lahan yang subur dan luas, penduduknyan banyak dan padat adalah sumber kekuatan pembangunan. Didukung dengan Agama Islam yang dianut, seharusnya menjadikan Indonesia Negeri yang berakhlak mulia.

Konsep pembangunan ekonomi yang menyengsarakan rakyat, konsep pembangunan politik yang membelenggu kebebasan, konsep pembangunan pendidikan yang mengabaikan nilai-nilai agama, malah menganut nilai-nilai sekularisme (keduniaan dan kebendaan). Konsep saya Insya Allah akan mengedepankan Ekonomi Kerakyatan, yakni pembangunan ekonomi yang mengandalkan kemampuan sendiri, mengangkat derajat kaum dhuafa (kaum miskin) seperti, Buruh, Pedagang Kaki Lima, Pegawai Negeri Sipil dan lainnya.

Mengangkat harkat dan martabat kaum pribumi dan kaum terpinggirkan, yang sebenarnya banyak menyumbang devisa seperti Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri. Namun karena salah dalam menerapkan konsep, sehingga Tenaga Kerja Indonesia tak ubahnya seperti Sapi Perahan dan/atau Budak Murahan bagi negeri jiran seperti Malaysia.

Kemampuan manajerial SBY, Megawati, GUSDUR, Habibie, Soeharto dan juga Soekarno, masih jauh dari harapan rakyat.

Jika ALLAH menghendaki dan meridhoi, saya akan berjuang bersama rakyat atau Kaum Dhuafa untuk memimpin negeri ini, amin ya robbal ’alamin.

Diskusi Islam-Kristen Via Facebook

Antara Azizi F Sigit dan Saya


Imam Supriadi 11 Juli jam 11:01
saya juga punya saudara dari Jawa yang NASRANI, tapi kami tak ada permusuhan,ok. Bahkan ada yang menjadi Pendeta/Pastur,ok.

Azizi F Sigit 11 Juli jam 12:19
thanks telah nge-add, kel sayapun bhineka, mertua islam, kakek katolik (dr ibu) islam (dr bpk) hindu(dr bpk mertua) dan damai2 dan akur2 selalu, karna perselisihan terjadi apabila saling mrs benar, tp bg saya yg penting laku (perbuatan) kita
Dikirim melalui Facebook Seluler

Imam Supriadi 11 Juli jam 21:14
thanks atas konfirmasinya. Kami kaum Muslim tak suka mengganggu apalagi menggunakan kekerasan, apabila dari pihak anda tidak melakukan pemurtadan dan provokasi. Banyak contoh2 kejadian yang dilakukan oleh kelompok Nasrani yang mengiming-imingi, menggunakan cara toleransi dan diskriminasi terhadap minoritas. Tidak..!! Kami sangat toleran dan tidak pernah berdakwah menggunakan cara2 yang tidak diajarkan oleh agama kami. La Iqroha fiddiin (tak ada paksaan dalam beragama)> Paman Rosulullah sendiri tidak bisa dipaksa masuk ISLAm, meski paman beliau banyak jasanya dalam dakwah dan perjuangan Rosulullah (Nabi Muhammad SAW). Banyak contoh2 suri teladan dari Nabi kami yang harus kami ikuti. Penaklukkan KOTA MEKAH tak perlu ber-darah2 dan kekerasan. Ini sedikit gambaran perilaku AGAMA ISLAM yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Azizi F Sigit 11 Juli jam 22:05
Saya pribadi pribadi tidak pernah menganggap agama yang satu lebih baik dari yang lain. Di dalam menjalankan hidup saya lebih mengedepankan pada tuntunan nurani atau orang jawa bilang laku sejati.
Kitab suci adalah hasil dari permenungan penulis atau tokoh dalam KS tsb didalam mencari kebenaran Tuhan, dan KS adalah salah satu sarana untuk mendapatkan kebenaran Tuhan, maka bagi saya Tuhan lebih melihat kemurnian hati kita didalam mencari kebenaran..TQ
Dikirim melalui Facebook Seluler

Imam Supriadi 12 Juli jam 1:29
terima kasih, tapi jika anda sudi bacalah ini:
http://injilkristen.tripod.com/
RAHASIA KAUM MISSIONARIS (PARA PENDETA & PASTOR) YANG TAKUT DIKETAHUI OLEH UMATNYA SENDIRI
injil kristen.tripod.com
BERIKUT INI ADALAH SEBAGIAN INFORMASI YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKAN OLEH GEREJA AGAR UMAT KRISTEN / KATHOLIK TIDAK MEMPELAJARI ALKITAB MEREKA SENDIRI SECARA MENDALAM, APALAGI SAMPAI DENGAN MEMBANDINGKAN ANTAR SATU KITAB DENGAN KITAB LAIN...
Bagikan

Azizi F Sigit 12 Juli jam 16:57
Saya sudah buka link yang saudara tunjukkan dan saya paham akan semua isi dari link tersebut. Saya pribadi dulu juga pernah bertanya-tanya maksud dari isi kitab suci.

Seperti yang pernah saya utarakan bahwa KS adalah hasil permenungan maka di dalam memahamipun harus melalui permenungan atau dicari esensinya (bisa yang tersurat maupun tersirat) dan dipahami dan diterapkan didalam kehidupan sehari-hari. KS adalah ajaran untuk memahami kebenaran Tuhan dalam hal ini Sang Pencipta alam semesta. Itu pemahaman saya didalam mencari kebenaran Tuhan.

Misalnya Yesus Kristus nama sebenarnya Yeshua ha Masiakh (bahasa Ibrani ) yang berarti Keselamatan yang diurapi atau ditetapkan Oleh sang Pencipta. Maka kalau kita menjadikan Keselamatan yang sejati sebagai tuhan atau yang diutamakan maka kitapun akan selamat selamanya (di dunia maupun di akhirat) dan Yesus yang dari Nazaret itu gambaran Keselamatan itu, maksudnya apa yang telah dilakukan dan diucapkan.

Misalnya hari sabat atau hari perhentian, hari ketujuh harus berhenti dari segala pekerjaan dan hanya beribadah kepada Tuhan. Semua hanya gambaran bahwa setelah 6 hari/masa/fase kita bekerja (pikiran, hati, indra seluruh tubuh) untuk masalah jasmani maka hari/fase/masa ke 7 berhenti untuk hanya terarah kepada sang Pencipta, itu bisa hanya 1 jam, 1 hari, 1 minggu dst. Atau tiap 6 tahap kita memikirkan jasmani tahap ke 7 berhenti untuk Tuhan.
Tangan, kaki di potong mata dicukil itu hanya gambaran bawa perbuatannya yang dipotong atau dihilangkan.

Begitulah saya memahaminya ayat-ayat didalam KS, maka dikatakan Firman Tuhan itu hidup tidak mati karna yang hidup itu esensinya. Itu hanya contoh saja tetapi yang penting bagaimana kita merenungkan firman dalam KS sehingga membuat kita dapat mengasihi Sang pencipta dan sesama dengan benar, kalau yang terjadi sebaliknya berarti kita masih salah dalam memahaminya. Dan KS bagi saya adalah salah satu sarana untuk mendapatkan kebenaran sejati dan masih banyak yang lainnya….TQ

Imam Supriadi 13 Juli jam 22:04
Saudara Asisi Sigit yang saya hormati. Suatu Ayat Suci seharusnya tidak berisi makna yang tidak jelas atau abu-abu. Saya belajar hukum, bahwa dalam hukum tidak ada multi tafsir, apalagi abu-abu. Suatu hukum potong tangan ya tetap potong tangan, cungkil mata ya cungkil mata. Apakah sudah memahami hukum buatan manusia seperti Kitab Undang-Undang Hukum Pidana?
Coba anda bandingkan dengan Kitab Suci Al-Qur'an, adakah disana hukum yang tak jelas. Contoh: Ketika seorang Isteri sedang MENSTRUASI, apakah suami boleh mencampurinya/menidurinya?
Kalau boleh, bagaimana dengan kesehatan? itu dulu bahasannya hari ini.

Imam Supriadi 18 Juli jam 7:27
Selamat pagi Sigit, apa kabar? Semoga sehat selalu
masih mau diskusi nggak? aku tunggu loh..
facebook
Azizi mengirimi Anda pesan.

Azizi F Sigit25 Juli 2010 jam 12:18
Balasan: haii..
Maaf Pak Imam, baru sekarang online di komp. saya sehat selalu trimakasih, demikian juga anda, saya harap juga sehat dan selalu dalam lindunganNya.

Sebenarnya yang benar namanya Alkitab, jadi isinya disitu ada permenungan, sejarah juga perkataan-perkataan nubuat (firman). Dan karena Alkitab itu terjemahan maka di dalam menerjemahkan bisa salah atau tidak sesuai dengan yang dimaksud. Atau jelasnya Alkitab ditulis dalam bahasa Ibrani kuno, Aram-ibrani. Maka kita memahaminya dengan kesejatian kita atau dengan roh kita, maka memahami tulisan Alkitab perlu permenungan yang dalam dan saya yakin orang2 nasranipun belum banyak yang paham akan seperti itu.

Kiranya seperti itu dulu tanggapan saya, semoga dapat dipahami terimakasih.

Imam Supriadi 25 Juli jam 3:35
saya kasih pertanyaan: samakah 1=3?, adakah satu jiwa dengan tiga kepribadian? Jika Yeus (Nabi Isa menurut ISLAM) adalah TUHAN (menurut ajaran anda adalah ALLAH, tetapi tidak sama dengan ALLAH pengertian UMMAT ISLAM,ok) tetapi YESUS (NABI ISA) dilahirkan dari RAHIM SEORANG IBU yakni MARYAM ATAU MARIA, masuk dinalarkah jika orang yang melahirkan YESUS DICIPTAKAN OLEH YESUS (ibunda SITI MARYAM ATAU MARIA)?, KALAU NABI ISA ATAU YESUS DILAHAIRKA DARI RAHIM SEORANG WANITA, BISAKAH MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA INI, SEDANGKAN ALAM INI SUDAH ADA SEBELUM YESUS ATAU NABI ISA DILAHIRKAN? KAPAN YESUS LAHIR?, BENARKAH DIDAERAH YANG BERSALJU? PADAHAL DAERAH TERSEBUT TIDAK BERIKLIM SALJU/ES, TETAPI MUSIM KERING? Ini dulu pertanyaan saya dan harus dengan akal dan logika, tidak harus bermenung. Dalam kaidah BAHASA INDONESIA 'BERMENUNG ATAU PERMENUNGAN' adalah MELAMUN ATAU MENGKHAYAL, begitu bukan? adakah KITAB SUCI DARI HASIL MENGKHAYAL (BERMENUNG ATAU PERMENUN GAN MENURUT ANDA). Saya harap anda menggunakan akal dan logika yang benar atau sehat,ok. Semoga anda dan keluarga sehat selalu, amin.


Jika AL-KITAB itu suci, adakah FIRMAN itu tidak dicemari oleh tangan-tangan manusia. Seperti AL-QUR'AN, ia tetap utuh dalam BAHASA ASLINYA ARAB, meski diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Siapa Penulis itu? Apakah para Sahabat YESUS? Kapan Para Sahabat Yesus itu lahir? Apakah mereka menyaksikan WAHYU ITU diterima oleh YESUS (Namanya Nabi kalau menerima wahyu, bukan pemberi atau penyampai wahyu, kalau menurut ISLAM yang menerima wahyu adalah NABI, termasuk Nabi ISA Alaihissalam). Kalau di dalam agama ISLAM, NABI MUHAMMAD menerima wahyu dari MALAIKAT JIBRIL (dalam Nasrani GABRIEL) dan NABI MUHAMMAD tidak bisa membaca alias BUTA HURUF. Andai Nabi MUHAMMAD Sholallahu 'Alaihi Wassalam MELEK HURUF alias bisa membaca, BELIAU bisa dituduh mengarang atau mengada-ada alias buatan tangan sendiri. Adakah KITAB SUCI INJIL kaum Nasrani itu memiliki ciri-ciri sperti itu? Jika Perkataan NABI MUHAMMAD yang diucapkan dan di dengar oleh PARA SAHABAT BELIAU yang bukan WAHYU, namanya HADITS. Sekian dan nanti disambung kembali. Semoga anda sekeluarga sehat dan diberikan rejeki yang berlimpah, amin.
________________________________________
From: Facebook
To: Imam Supriadi
Sent: Sat, July 24, 2010 10:18:26 PM
Subject: "Azizi F Sigit" mengirimi Anda pesan di Facebook...

DENSUS 88 BIADAB LAKNATULLAH